LOTIM, SATUNUSA.CO - Banyak ruang  dan waktu panjang tersedia, tapi tidak berlaku untuk orang yang kreatif. Waktu dan ruang terasa sempit dan pendek. Betapa tidak,  karya adalah identitas dan terus berkarya cara arif  menjalankan kehidupannya . 

Komunitas Rabulangit, komunitas yang dilahirkan  di Kabupaten Lombok Timur, satu diantara sedikit didalamnya terdapat insan kreatif/sastrawan yang mengisi hari dengan menciptakan  karya berupa kumpulan puisi, cerpen, diskusi workshop  dan  kegiatan sastra lainnya berupa pertunjukan dan festival. 

Hadirnya komunitas tersebut, bukan karena sesuatu hitung janji gemerlap di depan sana, hanya  ketulusan dan gairah kecintaan terhadap seni. 

Kegelisiahan, dan menunggu siapa  yang peduli akan pembangunan dunia seni dan sastra di daerah ini, terasa cukup lama dan harus diakhiri.

Tahun 2012 komunitas ini berdiri, bangkit bergegas dan bergerak. Bicara sastra tiada henti, setiap ruang ditelusuri, taman, kampus dan tempat terbuka lainnya mereka isi. Rabulangit acap kali diskusi di belakang rumah dan pentas beratapkan langit. Di tahun 2013 mulai diskusi rutin dengan nama  ““Ngeder Sastra “ dan menerbitkan buku puisi berjudul " Kepompong Api"

Rabulangit tengah berjalan membawa "moving art" sebagai jawaban atas keterbatasan ruang berkesenian dengan membuat ruang-ruang baru yang ekologis dan ruang yang dipahami sebagai ruang kreatifitas, bukan ruang sebagai tempat.

“Moving art “ telah ditelurkan sejak Desember 2015 dengan tema instalasi benang sifat karya Yuspinal Imtihan. Banyak juga “moving art” yang dilakukan seperti tema "sungai" dan "pasar tradisional". 

" Minimya perhatian terhadap seni dan sastra kita rasakan. Kita butuh wadah untuk berkreasi. kita buat panggung sendiri, daripada kita tunggu kapan dan siapa yg akan siapkan," kenang Fatih Kudus Jaelani, salah seorang pendiri Komunitas Rabulangit, Kamis (01/8/2019)

Lebih jauh diharapkan, jika  ada instansi pemerintah yang memiliki program pembangunan seni di daerah ini, hendaknya diurai dengan program-program strategis yang bisa menginfluece/mempengaruhi generasi muda untuk cinta seni dan sastra.

Membaca karya komunitas Rabulangit, telah lahir sastrawan  kekinian, akrab dengan zaman, penuh dengan nilai. Sastrawan yang lembut tutur katanya,  peka  atas sekitar, kadang mencubit lembut terasa, hanya  memar menjadi tanda. 

Waktu akan  menjadi saksi sejarah, bahwa komunitas Rabulangit telah hadir  dan memberi sesuatu yang diharapkan. Mereka  menarik tangan generasi muda ke ruang yang luas, menuju  panggung tiada batas.(dy)